Kerokan: Fakta Medis di Balik Punggung Merah dan “Masuk Angin”
aasana.org – Bayangkan Anda baru saja pulang kerja setelah seharian kehujanan atau duduk terlalu lama di bawah embusan AC kantor. Tubuh terasa berat, leher kaku, dan perut mulai terasa kembung. Di Indonesia, diagnosisnya sudah pasti satu: “masuk angin”. Alih-alih mencari parasetamol, refleks pertama banyak orang adalah mencari koin logam dan minyak urut. Begitu punggung mulai disisir dengan koin hingga muncul gurat merah membara, ada rasa lega yang sulit dijelaskan kata-kata.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, apakah warna merah di punggung itu benar-benar “angin” yang keluar dari tubuh? Ataukah itu sekadar luka lecet yang kita bangga-banggakan? Fenomena Kerokan: Fakta Medis di Balik Punggung Merah dan “Masuk Angin” sering kali dianggap sebagai praktik tradisional yang kuno, namun faktanya, dunia medis modern memiliki penjelasan yang cukup mengejutkan mengenai hal ini.
Kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang sangat intim dan magis tentang kerokan. Ia bukan sekadar pengobatan, melainkan ritual sosial yang melibatkan sentuhan fisik dan kepercayaan turun-temurun. Mari kita bedah lapisan-lapisan di balik kulit yang memerah ini untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Anda saat “dikerok”.
Mitologi Koin dan Logika “Angin” yang Terjebak
Bagi masyarakat nusantara, masuk angin dianggap sebagai kondisi di mana udara dingin terjebak di dalam otot atau aliran darah. Kerokan diyakini sebagai cara untuk “membuka pintu” agar angin tersebut bisa keluar. Semakin merah warnanya, konon semakin banyak angin yang berhasil diusir. Secara budaya, kerokan adalah kearifan lokal yang sangat efisien—murah, cepat, dan bisa dilakukan siapa saja di rumah.
Fakta & Insight: Dalam istilah medis, “masuk angin” sebenarnya tidak ada. Gejala yang kita rasakan biasanya merupakan kumpulan gejala dari flu-like syndrome atau kelelahan otot (myalgia). Tips: Jangan menganggap kerokan sebagai obat untuk segala penyakit. Jika gejala menetap lebih dari tiga hari, angin yang Anda maksud mungkin adalah sinyal dari kondisi medis yang lebih serius.
Membedah Warna Merah: Petechiae atau Pembuluh Pecah?
Warna merah yang muncul saat Anda melakukan Kerokan: Fakta Medis di Balik Punggung Merah dan “Masuk Angin” sebenarnya disebut petechiae. Ini terjadi karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang berada tepat di bawah permukaan kulit akibat tekanan dari koin.
Analisis Medis: Saat kulit ditekan dan digesek, pembuluh darah kapiler melebar (vasodilatasi). Pelebaran ini membuat aliran darah ke area tersebut meningkat secara signifikan. Insight: Peningkatan aliran darah ini sebenarnya membawa oksigen dan nutrisi lebih banyak ke otot-otot yang sedang kaku atau meradang. Jadi, warna merah itu bukan tanda angin keluar, melainkan bukti bahwa sirkulasi darah Anda sedang “dipaksa” untuk lebih lancar.
Mengapa Terasa Enak? Keajaiban Endorfin dan Prostaglandin
Salah satu misteri terbesar adalah mengapa proses yang terlihat menyakitkan ini justru memberikan efek relaksasi. Rahasianya terletak pada reaksi kimia di otak. Saat kulit mengalami peradangan ringan akibat gesekan koin, tubuh melepaskan hormon endorfin—zat kimia alami yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dan pemicu rasa bahagia.
Data & Fakta: Selain endorfin, kerokan juga memicu penurunan kadar prostaglandin, senyawa yang menyebabkan nyeri otot. Insight: Inilah sebabnya setelah dikerok, tubuh terasa lebih ringan dan kantuk mulai menyerang. Tips: Manfaatkan efek relaksasi ini untuk segera beristirahat. Hindari langsung mandi air dingin setelah kerokan karena pembuluh darah Anda sedang dalam kondisi melebar dan sensitif terhadap perubahan suhu mendadak.
Kerokan dalam Kacamata Pengobatan Timur (Gua Sha)
Jangan mengira kerokan hanya milik orang Indonesia. Di Tiongkok, praktik ini dikenal dengan nama Gua Sha. Bedanya, mereka sering menggunakan tanduk kerbau atau batu giok yang halus, bukan koin seribuan. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: stimulasi permukaan kulit untuk memicu penyembuhan internal.
Fakta: Penelitian menunjukkan bahwa Gua Sha atau kerokan dapat meningkatkan sistem imun dengan memicu respons anti-inflamasi di dalam tubuh. Insight: Meskipun terlihat “barbar” bagi sebagian orang Barat, teknik ini mulai diakui sebagai terapi komplementer yang efektif untuk nyeri punggung kronis. Hal ini membuktikan bahwa tradisi lama sering kali memiliki dasar ilmiah yang kuat, meski dibungkus dalam bahasa mitos.
Risiko di Balik Gesekan: Higienitas dan Tekanan Berlebih
Meski bermanfaat, Kerokan: Fakta Medis di Balik Punggung Merah dan “Masuk Angin” bukannya tanpa risiko. Kesalahan paling umum adalah menekan koin terlalu keras hingga kulit lecet atau berdarah. Luka terbuka pada kulit adalah pintu masuk utama bagi bakteri dan virus.
Tips Keamanan:
-
Gunakan Pelumas: Selalu gunakan minyak zaitun, balsem, atau losion agar koin tidak merobek kulit.
-
Perhatikan Alat: Pastikan koin atau alat kerok dalam keadaan bersih. Hindari menggunakan koin yang sudah berkarat.
-
Hindari Tulang: Jangan mengerok tepat di atas tulang belakang. Fokuslah pada area otot di samping tulang punggung.
-
Jangan Terlalu Sering: Kerokan yang terlalu sering bisa membuat pembuluh darah kapiler rapuh dan kulit menjadi kasar.
Kapan Anda Harus Berhenti Mengerok?
Ada kondisi di mana kerokan justru berbahaya. Orang dengan gangguan pembekuan darah, pengguna obat pengencer darah, atau penderita diabetes harus sangat berhati-hati. Luka kecil yang tidak terasa bisa menjadi infeksi serius bagi mereka.
Insight: Jika setelah dikerok punggung Anda bukan hanya merah tapi muncul memar yang membiru atau bengkak, itu tandanya tekanan yang diberikan terlalu berlebihan. Kerokan seharusnya terasa seperti pijatan yang kuat, bukan siksaan. Tips: Selalu komunikasikan rasa nyeri saat Anda dikerok oleh orang lain. Jangan menahan sakit hanya demi mendapatkan warna merah yang “mantap”.
Pada akhirnya, memahami Kerokan: Fakta Medis di Balik Punggung Merah dan “Masuk Angin” membantu kita menghargai warisan leluhur tanpa harus terjebak dalam mitos yang keliru. Kerokan adalah teknik stimulasi sirkulasi darah yang sederhana namun efektif, asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan higienis. Ia adalah bukti bahwa terkadang, solusi untuk rasa tidak enak badan tidak selalu ada di apotek, tapi di kotak koin Anda.
Jadi, apakah Anda sudah siap untuk ritual kerokan berikutnya, atau justru mulai mempertimbangkan cara lain untuk meredakan masuk angin? Satu yang pasti, jangan lupa untuk selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh tubuh Anda.